Langsung ke konten
Internet

Cara Mengetahui dari Apa Suatu Website Dibuat

Foto TaufiqOleh Taufiq
Cara Mengetahui dari Apa Suatu Website Dibuat

Halo! Pernahkah Anda membuka sebuah website yang keren, lalu bertanya-tanya, website ini dibuat dari apa ya? Apakah memakai WordPress, framework React, atau bahasa pemrograman khusus? Pertanyaan ini wajar muncul, apalagi jika Anda sedang belajar membuat website, ingin meniru teknologi pesaing, atau sekadar penasaran bagaimana sebuah situs dibangun. Kabar baiknya, ada banyak cara untuk mengetahui dari apa suatu website dibuat — mulai dari tool otomatis seperti BuiltWith, hingga trik manual lewat “View Source” yang bisa dilakukan siapa saja tanpa install aplikasi. Artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah mengenali teknologi di balik sebuah website, plus tips membaca hasilnya agar tidak salah tafsir.

Kenapa Perlu Mengetahui dari Apa Suatu Website Dibuat?

Mengetahui stack teknologi sebuah situs bukan sekadar rasa penasaran. Ada beberapa alasan praktis mengapa informasi ini berguna:

  • Riset kompetitor — Anda bisa tahu platform apa yang dipakai pesaing untuk menentukan strategi website Anda sendiri.
  • Menentukan cara membangun website — Jika target Anda adalah situs berita, melihat bahwa mayoritas memakai WordPress bisa jadi pertimbangan memilih CMS yang sama.
  • Evaluasi biaya dan skill — Website berbasis CMS umumnya lebih mudah dikelola tanpa coding, sedangkan custom framework butuh developer.
  • Analisis keamanan dan performa — Mengetahui server dan teknologi membantu memahami potensi celah serta kecepatan situs.
  • Kebutuhan scraping atau integrasi — Developer sering perlu tahu struktur situs untuk membuat API scraper atau integrasi data.

Cara 1: Menggunakan Tool Otomatis (BuiltWith)

Cara paling cepat dan lengkap adalah memanfaatkan layanan online yang secara otomatis menganalisis teknologi sebuah situs. Salah satu yang paling populer dan sudah lama dikenal adalah BuiltWith.

Langkah-langkah Menggunakan BuiltWith

  1. Buka website builtwith.com di browser Anda.
  2. Masukkan alamat website yang ingin dilihat di kolom pencarian, misalnya infanthree.com atau nama domain lain.
  3. Tekan enter atau klik tombol Lookup.
  4. Tunggu beberapa detik hingga hasil analisis muncul.

Setelah proses selesai, Anda akan melihat halaman berisi ribuan data teknologi, mulai dari web server, CMS, framework JavaScript, analytics, iklan, CDN, sampai email provider yang dipakai situs tersebut. Bagian yang paling sering dilihat adalah profil teknologi inti di bagian atas halaman.

Tool Alternatif yang Bisa Dicoba

BuiltWith bukan satu-satunya pilihan. Beberapa tool lain dengan pendekatan berbeda juga layak dicoba:

  • Wappalyzer — Tersedia sebagai ekstensi browser (Chrome, Firefox, Edge). Sekali install, Anda tinggal membuka situs mana pun dan ikon Wappalyzer langsung menunjukkan teknologinya. Sangat praktis untuk riset cepat.
  • BuiltWith (versi gratis) — Menampilkan teknologi utama tanpa biaya, cukup untuk kebutuhan umum.
  • Netcraft — Lebih fokus pada infrastruktur dan keamanan web, termasuk riwayat server dan hosting.
  • whatcms.org — Khusus untuk mendeteksi CMS; cepat dan simpel.
  • Wayback Machine + tool riset — Untuk melihat teknologi yang dipakai di masa lalu, berguna saat menganalisis perubahan platform.

Cara 2: Inspeksi Manual Lewat View Source

Kalau Anda ingin cara yang 100% gratis tanpa tool pihak ketiga, inspeksi manual adalah jawabannya. Teknik ini bekerja di browser apa pun dan tidak butuh keahlian khusus — hanya kemampuan mengenali pola.

Membuka Source Code Halaman

  1. Buka website target di browser (Chrome, Firefox, Edge, atau lainnya).
  2. Klik kanan pada halaman, lalu pilih View Page Source (atau tekan Ctrl + U di Windows / Cmd + U di Mac).
  3. Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata kunci tertentu di dalam source code.

Tanda-tanda Khas yang Perlu Dicari

Setiap platform meninggalkan jejak yang bisa dikenali dari source code:

  • WordPress — Cari wp-content, wp-includes, atau meta tag <meta name="generator" content="WordPress">.
  • Joomla — Cari /media/system/ atau com_content pada URL aset.
  • Drupal — Cari /sites/default/files/ atau meta generator Drupal.
  • Wix / Squarespace / Shopify — Biasanya ada pola URL aset khas seperti static.wixstatic.com, static1.squarespace.com, atau cdn.shopify.com.
  • Framework JavaScript (React, Vue, Angular) — Cari id="root", id="app", atau file bundle dengan nama seperti app.[hash].js.
  • Bootstrap / Tailwind — Cari nama class khas seperti col-md-, container-fluid (Bootstrap) atau flex, grid (Tailwind).

Cara 3: Periksa Header HTTP dan Server

Informasi teknologi juga bisa didapat dari respons server. Anda tidak perlu tool khusus — cukup fitur Inspect Element di browser:

  1. Klik kanan pada halaman, pilih Inspect (atau tekan F12).
  2. Buka tab Network, lalu muat ulang halaman.
  3. Klik dokumen utama (biasanya nama domain), lalu lihat tab Headers.
  4. Perhatikan nilai Server, X-Powered-By, Set-Cookie, atau header lain yang mengungkap server dan bahasa backend.

Contoh: header Server: nginx menunjukkan web server Nginx; X-Powered-By: PHP/8.1 mengindikasikan PHP; Set-Cookie dengan nama PHPSESSID juga menandakan PHP. Sayangnya, banyak situs kini menyembunyikan header ini demi keamanan, jadi jangan kecewa kalau tidak ada hasil.

Cara 4: Gunakan Ekstensi Deteksi di Browser

Untuk riset yang sering dilakukan, ekstensi browser adalah pilihan paling nyaman:

  1. Buka Chrome Web Store atau Add-ons Firefox.
  2. Cari Wappalyzer (atau BuiltWith Technology Profiler).
  3. Klik Add to Chrome / Add to Firefox, lalu pin ikonnya di toolbar.
  4. Buka website target, klik ikon ekstensi, dan teknologi situs langsung tampil dalam bentuk badge.

Keunggulan ekstensi: hasil muncul instan tanpa harus membuka situs analisis terpisah. Cocok untuk pekerjaan riset kompetitor harian atau saat membandingkan banyak situs sekaligus.

Studi Kasus: Membedakan Website Berbasis CMS vs Framework

Misalkan Anda menemukan dua toko online: situs A dan situs B. Dengan BuiltWith atau inspeksi manual, Anda menemukan situs A memakai WordPress dengan plugin WooCommerce — terlihat dari wp-content/plugins/woocommerce. Sementara situs B memakai React dengan API backend custom — terlihat dari bundle JavaScript dan pola URL API. Implikasinya:

  • Situs A mudah dimodifikasi lewat tema dan plugin tanpa coding; cocok untuk pemilik bisnis yang mengandalkan tim non-teknis.
  • Situs B lebih fleksibel dan cepat, tapi butuh developer untuk setiap perubahan.
  • Perkiraan biaya dan kecepatan rilis fitur pun berbeda jauh antara kedua pendekatan.

Dengan informasi ini, Anda bisa memutuskan teknologi mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya tim Anda.

Keterbatasan dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Metode di atas tidak selalu akurat 100%. Beberapa hal yang perlu Anda sadari:

  • Teknologi tersembunyi — Banyak situs menghapus meta generator dan header agar teknologi inti tidak mudah ditebak.
  • Kombinasi teknologi — Satu situs bisa memakai WordPress untuk blog dan React untuk aplikasi utama, sehingga deteksi parsial bisa menyesatkan.
  • Tool gratis terbatas — BuiltWith versi gratis hanya menampilkan sebagian data; data lengkap berbayar.
  • Kesalahan deteksi — Tool otomatis kadang salah mengidentifikasi teknologi yang mirip, jadi selalu konfirmasi dengan inspeksi manual.

Rangkuman

Mengetahui dari apa suatu website dibuat ternyata tidak sulit. Intinya:

  • Gunakan BuiltWith untuk analisis lengkap dan cepat.
  • Pasang Wappalyzer untuk deteksi instan langsung dari browser.
  • Inspeksi View Source untuk verifikasi manual lewat pola wp-content, id="root", dan sejenisnya.
  • Periksa header HTTP untuk melihat server dan bahasa backend.
  • Selalu konfirmasi hasil tool dengan inspeksi manual agar tidak salah tafsir.

Dengan kombinasi metode di atas, Anda bisa memetakan teknologi situs mana pun — baik untuk riset kompetitor, memilih platform website sendiri, maupun sekadar memuaskan rasa penasaran. Selamat mencoba, dan semoga analisis pertama Anda menghasilkan temuan yang menarik!

Hal yang sering ditanyakan seputar Deteksi Teknologi Website

Bagaimana cara mudah mengetahui teknologi di balik suatu website?

Gunakan ekstensi browser seperti Wappalyzer, periksa header respon HTTP, atau gunakan developer tools (Network & Elements).

Apa saja informasi yang bisa diidentifikasi dari deteksi teknologi?

CMS yang digunakan (seperti WordPress), framework JavaScript (React, Vue), server web (Nginx, Apache), dan platform analitik.

Apakah menyembunyikan identitas teknologi web penting untuk keamanan?

Ya, menyembunyikan versi CMS/server (security through obscurity) membantu meminimalkan serangan eksploitasi celah keamanan otomatis.

Komentar

Memuat komentar…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.